Beberapa bulan yang lalu saya kedapetan rezeki buat bisa mengunjungi sebuah
panti asuhan di gang sempit daerah Keputih. Saya, dan beberapa
temen-temen Elang 2011 yang antusias berkontribusi di acara tahunan
HIMA Sthapati kali ini sudah mulai kalang kabut sejak beberapa hari
sebelumnya. Mengumpulkan uang, dan memilih-milih buku sumbangan yang
nantinya akan dibaca para penerus bangsa disana nantinya. Sthaperi;
Sthapati Peduli Negeri. Kali ini mengusung acara Pustaka Mini yang
diadakan di Panti Asuhan B. J. Habibie. Konsepnya simple; mbak mas
fungsionaris mengkoordinasikan tiap angkatan & KM Sthapati yang
berminat untuk menyumbangkan buku-buku bekas bagi anak-anak SD-SMP.
Dengan rak buku, meja belajar, bahkan buku gambar & origami
(brainstorming biar jadi arsitek :p)
Lalu,
ini yang menarik....
Ada part dimana kadep hublu kami menanyakan nama
& cita-cita adek-adek semua. Ada dokter, polisi, pemain sepak bola,
guru, dosen, dll. Tak satupun menyebut arsitek. Mungkin karena banyak
anak seumuran mereka yang belum paham betul siapa itu arsitek dan apa
yang mereka lakukan, beda nggak sih sama tukang bangunan, dan lain
sebagainya. Kecewa? Iya lah.
Hal
ini mengingatkan saya, sebagai salah satu keturunan keluarga arsitek,
dan sama sekali tidak berminat menjadi arsitek, hingga H-7 menjelang
pengumpulan form SNMPTN Undangan.
Berikut
kalimat yang menggetarkan hati saya. Mengutip sebuah perjalanan berbagi
cerita seorang lightning designers, yang bersusah payah menjelaskan
pekerjaannya kepada siswa-siswi kelas 3 SD
“Saya adalah arsitek,
Arsitek
adalah orang yang merancang bangunan dan membangunnya sehingga bisa
digunakan oleh orang lain secara nyaman dan bisa memberikan lingkungan
yang lebih baik.
Kami
bekerja tidak sekedar menggambar, tetapi mendengarkan mimpi, menuangkan
harapan orang lain, dan membuatnya nyata melalui proses menjadi
bangunan yang bertahan lama.
Tempat
dimana kalian duduk sekarang, kota kita, lihatlah keluar jendela,
mesjid, gedung hotel itu, rumah itu, pasar, tempat kalian bermain,
rumah sakit, adalah hasil kerja arsitek dan timnya. Kami bermimpi
bersama dan membuatnya terbangun.
Monas,
Museum gajah, masjid istiqlal, gereja katedral, stadion bung karno,
candi borobudur, dari pyramid di Mesir hingga menara Eiffel di paris,
kami merancang dan membuatnya nyata dan bertahan hingga saat ini. Kota
kita di isi dan dibentuk oleh arsitek.
Arsitek
menurut arsitek terkenal Frank Lloyd Wright adalah sekaligus penyair
dan peramal, penyair yang menandakan jamannya dan menjawab masa depan
melalui rancangannya.
Dan kamu, kamu, kamu, kita adalah seorang arsitek untuk masa depan kita."
##
Bagi saya adalah sebuah pekerjaan mulia.
Arsitek.
Bagi saya adalah sebuah pekerjaan mulia.
Mungkin tidak punya hymne seperti para guru,
Dan mungkin berbeda dengan dokter.
Namun bagi saya, Arsitek; kami,
membawa kehidupan,
dari balik layar....
edited by admin
No comments:
Post a Comment